Cari Blog Ini

Memuat...

Selamat Datang

Terima Kasih telah berkenan mengunjungi Blog Partai Bulan Bintang Kota Surakarta

Senin, 19 April 2010

MASYUMI, TELADAN YANG TERLUPAKAN

Arif Wibowo, SP[1]

Ketika Dr. Imaduddin Abdul Rahim menjadi utusan Pak Natsir untuk menghadiri IIFSO Conference di tahun 1971 merasa surprised. Betapa tidak ia yang saat itu belum menjadi apa-apa dalam percaturan Islam Internasional, diperlakukan sangat istimewa ketika ia memperkenalkan diri sebagai utusan Pak Natsir. Ketika di Beirut ia dijamu oleh Amin Al Husaini (Presiden Muktamar Alam Islami) dan diajak beraudiensi selama 1 jam. Setelah itu dia diundang ke Pakistan dan diajak beraudiensi dengan Abul ‘A’la Al Maududi. Di Libanon ia disambut langsung oleh Fathi Yakan (tokoh Ikhwanul Muslimin Libanon). [i] Big Question dari Dr. Imaduddin AR adalah mengapa Natsir yang begitu besar di mata-mata tokoh dunia Islam, justru termarginalkan di negeri sendiri.

Saya masih ingat betul ketika kuliah dulu (1990-1995), anak-anak muda aktivis Islam lebih mengenal sosok Hasan Al Banna, Sayid Quthub dan Taqiyuddin An-Nabhani di banding Mohammad Natsir, Roem, Kasman maupun Prawoto. Mereka lebih akrab dan merasa lebih keren ketika menyandang label Ikhwanul Muslimin ataupun Hizbut Tahrir daripada Masyumi. Dan nampaknya hal tersebut masih berlanjut sampai sekarang. M. Anis Matta, yang dikenal sebagai Tokoh PKS dan anggota DPR pun, ketika menulis artikel di Hidayatullah menyebut bahwa Generasi para pemikir dakwah (abad ini), seperti Al-Banna, Al-Maududi, Sayyid Quthub memfokuskan …….. Generasi kedua seperti Muhammad Al Ghazali, Yusuf Qardhawi, Fathi Yakhan memfokuskan …[ii] Saya hanya bertanya dikemanakan Moh. Natsir, Hamka, Mr. Moh Roem dan tokoh-tokoh segenerasi beliau oleh para aktivis tersebut ?

Sejarah panjang memutus “Catatan emas” sepak terjang Masyumi dalam perpolitikan negeri ini dilakukan sejak era Sukarno, ketika mencanangkan “Demokrasi Terpimpin” yang berniat menguburkan Partai-Partai. Kemudian datang Orde Baru yang datang dengan muka manis, membebaskan Tokoh-Tokoh Masyumi dari penjara (yang menemuai para tokoh tersebut adalah LB Moerdani). Merengek minta dibukakan pintu investasi dari negara-negara “sahabat Masyumi”. Namun ketika (atas lobby Pak. Natsir) investasi mulai dari negara-negara Timur Tengah dan Jepang, Natsir dkk kembali dikekang. Sehingga terjadilah “Keterputusan Sillaturrahmi Antar Generasi.” Sejarah Masyumi hanya menjadi obrolan nostalgia dari para pelakunya, kalangan PII dan GPI generasi tua dan orang-orang yang sejaman dengannya. Oleh karena itu ketika mendapatkan tawaran menyampaikan materi “Keteladan Masyumi”, saya berharap dengan segala keterbatasan saya, kita dapat menyambung sejarah Politik Islam di Indonesia menjadi sebuah jalinan rantai yang berkesinambungan, sehingga kita tidak selalu bermula dari titik nol. Dalam pertemuan ini saya tidak hendak membahas sepak terjang Masyumi dari sudut pandang politik tetapi lebih kepada Keteladanan Sikap dari Tokoh-tokohnya maupun Masyumi-nya. Beberapa point yang saya rangkum diantaranya :

Bersatunya Kata dan Perbuatan

Teks yang paling keras yang diberikan oleh Natsir bukanlah tulisan yang indah –Pak Natsir adalah salah seorang pemimpin yang paling leterir seleranya, indah dan persuasif- melainkan lebih banyak teks ini berwujud dalam tindakan.[iii] Mengapa teks tindakan lebih nyaring gaungnya ? Karena teks tulisan memberikan kebebasan tanpa batas, karena hanya berhadapan dengan kertas putih. Sedangkan teks tindakan, dia tidak bisa berbuat hanya berdasarkan idealisme, keinginan, ataupun konsep sebab ia berhadapan dengan realitas sosial, keinginan golongan lain dan bermacam variabel. Nampkanya tidak ada satupun tokoh nasional kita yang tidak bagus dalam “teks tertulis”, akan tetapi nampaknya keindahan teks tertulis tersebut jarang sekali bisa terwujud dalam kehidupan riil.

Pandangan Soekarno tentang perempuan terasa sangat ideal dalam bukunya yang berjudul “SARINAH”. Tetapi apakah seideal itu sikap beliau terhadap perempuan dalam kesehariannya ? Setiap detik, tujuh hari dalam seminggu, dalam panggung politik, ekonomi maupun budaya dan sektor yang lain, kita dipertontonkan beragam inkonsistensi antara kata dengan perbuatan. Orang yang mengaku demokratis, tiba-tiba saling berbaku hantam hanya karena masalah no.urut caleg. Yayasan yang bernama “Raudhatul Jannah” yang berarti Taman Surga tapi mau menerima uang yang akan mengantarkannya ke pintu neraka. Mobil Patroli milik aparat yang seharusnya untuk Operasi Pekat (Penyakit Masyarakat) pernah saya lihat justru nongkrong di halaman gedung 99 Enterprise tetangganya Show Room 148 di Jl. Adi Sucipto.

Ketika paradoks tersebut kita tanyakan maka selalu akan kita jumpai beragam alasan, daripada pos tersebut ditempat pihak lain, daripada dana korupsi tersebut digunakan untuk syiar agama lain dan lain sebagainya. Oleh karena itu kehadiran sosok teladan yang “selaras antara kata dan perbuatan” menjadi penting untuk kembali dihadirkan. Masyumi berbicara tentang Syura dan Demokrasi segigih mempertahankannya, sehingga memilih membubarkan diri daripada harus menerima konsep demokrasi terpimpin. Masalah anti korupsi, Kabinet Natsir adalah kabinet paling clean dalam sejarah Indonesia. Rata-rata tokoh Masyumi pernah masuk penjara, akan tetapi dalam catatan sejarah mereka masuk penjara karena mempertahankan idealisme-nya. Tidak ada satupun tokoh Masyumi yang masuk penjara karena korupsi. Kita juga tidak pernah mendengar tokoh-tokoh Masyumi tersebut ada kasus dalam masalah perempuan.

Bersahaja dalam Hidup

Selama berpolitik para pimpinan Masyumi tidak berpikiran untuk memperkaya diri. Ketika menjadi Menteri Penerangan, Natsir pergi ke kantor dengan menaiki sepeda dan memakai baju tambalan karena tuanya umur baju itu. Sampai-sampai para staf di Departemen Penerangan di masa itu terpaksa harus “berfikir” untuk membelikan kemeja yang pantas untuk sang menteri. Ketika menjadi Perdana Menteri Natsir mendapat sebuah mobil Dinas dan seorang sopir, tapi ketika Kabinetnya jatuh ia langsung mengembalikan mobil dinasnya kepada negara. Ketika Raja Faisal, dari Arab Saudi (pencetus embargo minyak) menawarkan sebuah mobil mewah (yang menurutnya pantas untuk tokoh sekaliber Natsir), Pak Natsir dengan santun mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan bantuan itu diberikan saja untuk ummat Islam yang kekurangan hidupnya.[iv] Akan tetapi kebersahajaan tersebut tidaklah mengurangi derajad ketokohan beliau. Tidak hanya dari para tokoh Islam, George Mcturnan Kahin, seorang Indonesianis-pun memberikan komentar khusus terhadap Natsir “Dia (Natsir) tidak bakal berpakaian seperti seorang menteri, namun demikian dia adalah seorang yang amat cakap dan penuh kejujuran. Jadi kalau anda hendak memahami apa yang sedang terjadi di republik ini, anda sudah seharusnya bicara dengannya.”[v]

Ternyata tokoh serupa Umar Bin Abdul Aziz juga pernah ada di Indonesia. Yang sangat jeli memilah mana yang merupakan fasilitas negara dan mana milik pribadi. Sehingga saya haqqul yakin jika saat ini Natsir masih menjadi pejabat pemerintahan ia tidak akan menggunakan pesawat milik negara untuk kampanyenya.

Salah satu murid Natsir yang saat ini menjadi hakim Agung Artijo Alkostar mewarisi kebersahajaan Natsir. Ia satu-satunya Hakim Agung yang belum punya mobil dan rumah pribadi. Tinggalnya masih di rumah kontrakan. Ketika ditanya wartawan “Mengapa beliau tidak menempati rumah dinas untuk Hakim Agung ?” Jawab beliau “Belum ada yang kosong mas, sebab banyak hakim agung yang sudah pensiun tetapi tidak mau meninggalkan rumah dinasnya.” Betapa saya lihat banyak rekan yang ketika masih menjadi da’i sudah merasa nyaman dengan baju koko Tasikmalaya, ketika sudah menjadi anggota legislatif hanya merasa nyaman ketika berjas “Kenzo” yang harganya di atas Rp. 5 juta per-potongnya. Tentu tidak layak kalau seorang anggota DPR harus ngantor dengan mobill Carry Pick Up, sebab tugas anggota dewan kan berat, jadi perlu istirahat yang nyaman di perjalanan,sehingga mobil minimal BMW. Ironisnya hal itu tidak hanya terjadi pada kader Politik Sekuler, tapi juga kader Politik Islam. Meksi demikian ketika berceramah ia tetap saja menekankan pentingnya kesederhanaan dan beragam anjuran moral lainnya.

Menjadikan Islam Sebagai Ideologi Aktual

Oleh Masyumi, Islam tidak ditempatkan dalam sebuah menara gading, tidak hanya dijadikan sebagai konsep-konsep yang indah tetapi jauh dari realitas masyarakatnya. Masyumi terus mendialogkan Islam dengan kenyataan. Sebab sebagaimana fungsi ijtihad untuk melakukan proses mewujudkan teks untuk hadir dalam konteks, maka Masyumi terus-menerus melakukan ijtihad politik, sehingga politik diharapkan tidak melenceng dari rel Islam. Bentuk-bentuk riil dalam ijtihad politik ini adalah bagaimana para tokoh Masyumi lebih memilih istilah kebangsaan dari pada nasionalisme. Dengan merujuk pada QS. Al-Huujurat ayat 11.

“Tak ada perlunya seorang muslim menanggalkan kebangsaan dan kebudayaannya. Dalam ajaran Isalam disebutkan bahwa manusia dijadikan dalam golongan bangsa-bangsa, dan suku-suku bangsa yang berbeda-beda. Bahasa pun berbeda-beda. Ini adalah fithrah, atau natuur kata orang sekarang.”[vi]

Natsir memilih kebangsaan sebagai bentuk pengakuan eksistensi bangsa yang saling kenal dengan bangsa lain, saling membantu untuk menjadi yang paling bertaqwa. Dari situ pula politk bebas aktif dirumuskan. Ini tentu lain dengan istilah nasionalisme yang cenderung mengajak orang menjadi chauvinistik, right or wrong my country. Tak heran dengan kemampuan mendialogkan Islam dengan kenyataan inilah banyak prestasi diukir Masyumi, mulai dari Mosi Integral Natsir, Pemilu paling jujur ketika Perdana Menterinya Pak Burhanudin Harahap dari Masyumi, juga konsep Bank Sentral untuk menanggulangi masalah moneter. Oleh karena itu menjadi wajar jika orang yang menautkan dirinya dengan Masyumi berasal dari banyak kalangan. Kholil Ridwan dan Ahmad Sumargono dari kubu fundamentalis, maupun Amin Rais dan Yusril dari kubu modernis. Bahkan Nurcholis Majid-pun pernah dijuluki sebagai Natsir muda.

Tegas Dalam Prinsip, Dewasa dalam Berpolitik

Tokoh-tokoh Masyumi dikenal dekat dengan banyak kalangan. Dengan tokoh Katholik seperti IJ. Kasimo, A.M. Tambunan dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Sutan Syahrir dari Partai Sosialis Indonesia (PSI). Mereka pernah tergabung dalam Liga Demokrasi yang menentang otoriterianisme Soekarno lewat Demokrasi Terpimpin. Pada masa Kabinet Amir Syarifudin (PKI) dengan tegas Dewan Pimpinan Masyumi tidak mau berpartisipasi dalam Kabinetnya. Walaupun itu harus dibayar dengan tanggalnya salah satu organ Masyumi yaitu PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Meskipun demikian hubungan pribadi tetap dilakukan. Natsir dan Aidit kadang terlihat ngobrol dengan Aidit pada saat rehat sidang Konstituante.

Kedewasaan politik yang berujung pada sebuah obyektifitas dan keadilan bersikap inilah yang menyebabkan Integritas Masyumi sangat disegani kawan dan lawan. Bahkan kata Abdullah Soulissa, tokoh Masyumi Maluku, dulu di Maluku Masyumi tidak hanya menang di desa-desa muslim, tetapi juga di beberapa desa non muslim. Pernyataan IJ. Kasimo ketika Natsir menjadi perdana menteri barangkali bisa mewakili, “Kalau yang pegang Pak.Natsir, saya percaya 200%.” Hamka yang pernah ditahan tanpa alasan oleh Soekarno bersedia menjadi Imam Sholat Jenazah ketika Soekarno wafat. Kedewasaan dalam berpolitk dan bersikap ini nampaknya makin jarang kita jumpai saat ini.

Eksklusive dalam Aqidah, Inklusive dalam Pergaulan

Hubungan mesra tokoh-tokoh Masyumi dengan para pimpinan Katholilk dan Kristen berakhir 1967. Hal tersebut dikarenakan para tokoh Katholik maupun Kristen menolak tata krama penyebaran agama yang diajukan pemerintah. Sikap tegas ini dilakukan sebab sudahmenyangkut masalah Aqidah. Hamka dalam masa tuanya pernah melindungi seorang perempuan Cina Non Muslim yang akan dianiaya suaminya, akian tetapi Hamka lebih rela kehilangan jabatannya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) daripada mencabut fatwa tentang Haramnya Mengikuti Perayaan Natal. Tidak ada kata kompromi untuk aqidah. Ini membuktikan inklusivitas wacana politik Masyumi adalah pada hal-hal yang memang kita bisa berijtihad di dalamnya. Akan tetapi dalam masalah Aqidah tidak ada kompromi. Masyumi telah secara tepat mengartikan kata toleransi.

Ironisnya saat ini kita melihat betapa banyak tokoh Islam yang terlibat dalam perayaan agama lain, doa bersama dan berbagai macam percampuran iman lainnya. Seorang Amin Rais yang tadinya giat membawa bendera Islam, untuk meraih dukungan publik tak sungkan mengucapkan ucapan selamat Natal maupun Tahun Baru Imlek melalui iklan mahal di televisi. Giliran mengucapkan Iedul Adha secara berombongan dan lupa mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijrah kepada umat Islam. Kita tentu prihatin melihat perkembangan ini.

Penutup

Ketika H. Agus Salim ditanya apa peranan beliau pada waktu pecahnya SI menjadi SI Merah dan SI Putih 1925-1926, beliau menjawab “We are as not interested in past. We are interested in the future”. Oleh karena itu paparan tentang Masyumi tadi bukan saya maksudkan untuk sekedar meromantisir masa lalu. Akan tetapi lebih merupakan usaha “self correction” bahwa keterpurukan ummat Islam saat ini mungkin disebabkan ketidakmampuan kita meneladani dan menyambung sejarah.


[1] Koordinator Lembaga Kajian Pemikiran Islam (LKPI) Solo, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Bintang Bulan (PBB) Surakarta; Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Bulan Bintang Kota Surakarta Periode 2004-2009; Peneliti di Pusat Studi Peradaban Islam.


[i] Dr. Imaduddin Abdul Rahim, “Kesan-Kesan Terhadap Mohammad Natsir”, makalah dalam seminar Jejak Perjuangan Mohammad Natsir, Youth Islamic Studi Club Al-Azhar 16-19 Juli 1994, Jakarta.

[ii] M. Anis Matta, Mengubah Cara Kita Memikirkan Dakwah” artikel dalam Majalah Hidayatullah edisi Oktober 2003.

[iii] Dr. Taufik Abdullah, 1994, Natsir, “Seorang Guru Yang Perfeksionis Filosofis”, makalah dalam seminar Jejak Perjuangan Mohammad Natsir, Youth Islamic Studi Club Al-Azhar 16-19 Juli 1994, Jakarta.

[iv] Dr. Ysril Ihza Mahendra, Sambutan dalam Seminar Jejak Perjuangan Mohammad Natsir, Youth Islamic Studi Club Al-Azhar 16-19 Juli 1994, Jakarta.

[v] Team Sabili, 2003, “Mohammad Natsir, Kiai Perdana Menteri” Artikel dalam Majalan Sabili Edisi Khusus, Sejarah Emas Muslim Indonesia, Oktober 2003.

[vi] M. Natsir, 1957, Capita Selecta II, (Dihimpun oleh D.P. Sati Aliman) Pustaka Pendis, Jakarta.

Senin, 12 April 2010

Susunan dan Personalia DPC

SUSUNAN DAN PERSONALIA
DEWAN PIMPINAN CABANG
PARTAI BULAN BINTANG KOTA SURAKARTA
PERIODE 1430-1435 H / 2009-2014 M

MAJELIS PERTIMBANGAN CABANG
Ketua : Ahmad Abu Jazid
Wakil Ketua : KH. Sholeh Anwar
Anggota :
  1. Hidayatullah Rosyidi, BA
  2. H. Tri Haryono, SH
  3. H. Salman Efendi
  4. Ustadz Ali M. Bazmul
  5. Drs. Sahlan Wigunadmo
  6. Dra. Siti Khusniyah

BADAN KEHORMATAN CABANG
Ketua : Ipmawan M. Iqbal, SP., S.Ag
Wakil Ketua : Sudirman Marsudi
Anggota :
  1. Hj. Dra. Djamilah Badres
  2. H. Taufiq Ahmadi, SH., S.Ag
  3. M. Muslih, S.Pd

PIMPINAN CABANG
Ketua : AWOD
Wakil Ketua : Drs. Mashud

Sekretaris : Kholid Saifullah
Wakil Sekretaris : Erna Widyasari, S.Si
Imam Ismadi Es-Sulthony

Bendahara : A. Marsono Profitana, SH
Wakil Bendahara : Misbahul Munir, S.Sos

Bagian-Bagian
Hubungan Antar Lembaga dan Pengabdian Masyarakat :
Ketua : Iwan Tri Winanto
Sekretaris : Sri Wijiastuti, S.Pd

Hubungan Antar Lembaga
Ketua : Zaky Mubarok
Sekretaris : Widi
Anggota : Siti Helmah, SE

Pengabdian Masyarakat
Ketua : Heppy Pantriska, SE
Sekretaris : Maryono M. Hanafi
Anggota : Nurul Karimah

Pengkaderan dan Pemberdayaan SDM
Ketua : M. Juwari MM., S.Pd
Sekretaris : Kurniawati Marfu'ah

Pengkaderan :
Ketua : Tri Sapto Pamungkas, S.Sos
Sekretaris : Ardina Dwi Apriyani, ST

Pemberdayaan SDM :
Ketua : Suwondo
Sekretaris : Ahmad Ghufron